Surabaya-Malang Trip (Part 1)

Travel

Dalam rangka merayakan kelulusan, gue dan 8 orang teman-teman sekelas mengadakan acara jalan-jalan ke Surabaya dan Malang. Berhubung ada salah satu temen gue yang asli orang Surabaya jadinya lebih murah karena bisa mangkas biaya penginapan sama transportasi selama di sana hehe.

Advertisements

Wisata Budaya ke Jogjakarta

Travel

Tanggal 1 sampai 4 Mei kemarin, gue berkesempatan untuk jalan-jalan ke kota pelajar Jogjakarta sama keluarga gue. Gue beruntung bisa mampir ke beberapa tempat warisan budaya lokal disana. So here’s the story.

Pertama gue pergi ke Ullen Sentalu. Tempat ini direkomendasikan oleh mantan gebetan teman gue yang pernah kuliah di Jogja. Sebenarnya rencana awalnya adalah mengunjungi tempat-tempat dengan pemandangan alam yang cantik seperti Kalibiru atau Pantai Indrayani, namun karena cuaca pada saat itu benar-benar tidak mendukung akhirnya gue memutuskan untuk pergi ke tempat-tempat yang beratap saja.

Perjalanan kesana membutuhnkan waktu sekitar satu jam dari hotel tempat saya menginap Hyatt. Taksi yang gue gunakan pada saat itu benar-benar g4o3l, karena dilengkapi dengna karaoke system! hahaha gue langsung pengen ketawa begitu liat, entah gue bener-bener katrok karena ga tau emang karaoke system ini emang udah jadi hal yang biasa, atau mungkin gue jadi teringat dengan film Taxi.

Di tempat tujuan kami membeli tiket seharga Rp. 30.000 per orang, plus tiga jas hujan karena untuk menyusuri ruang-ruang galeri di museum ini memang harus berjalan menyusuri lorong yang tidak beratap. Kami masuk bersama beberapa wisatawan lainnya dengan ditemani oleh seorang mbak pemandu.

Kami diajak menyusuri kamar-kamar didalam museum tersebut yang berisi bermacam barang peninggalan kerajaan Mataram seperti gamelan, lukisan-lukisan, kain batik dan patung-patung. Sayang kemi tidak diperbolehkan untuk mengambil foto didalam museum ini, jadinya gue kasih foto-foto narsis gue aja di halaman museumnya aja ya.

 Photo 05-05-15 07.16.42
Photo 05-05-15 07.17.04
Photo 05-05-15 07.17.36
Hari kedua, gue mengunjungi tempat pemandian para istri dan selir raja di Jogjakarta jaman dulu: Taman Sari. Lokasi tempat ini berdekatan dengan Keraton Jogja dan Alun-Alun, Tanya saja ke tukang becak atau delman di sekitar alun-alun, mereka pasti akan senang hati menunjukkan lokasi tempat ini.
Pengunjung hanya dikenakan biaya sebesar Rp. 5000 untuk bisa masuk ke tempat ini. Didalamnya kita bisa melihat dua buah kolam besar yang digunakan oleh para istri dan selir raja untuk mandi. Menurut cerita pemandu, raja-raja jaman dulu senang menonton para istri dan selirnya mandi bersama. Kemudian sayapun diajak masuk kedalam ruang bawah tanah dimana dulu digunakan sebagai tempat untuk solat berjamaah.
DSC02901
DSC02909
DSC02916
DSC02924
IMG_6461
Sepulangnya dari Taman Sari, saya kembali ke hotel untuk beristirahat sebentar. Tepat pada pukul 8, saya kembali turun ke jalan untuk mencicipi atraksi malam kota Jogja.
Salah satu hal yang sedang menjadi tren d Jogja adalah keliling alun-alun dengan odong-odong yang dihiasi lampu neon warna-warni. Saya menjajalnya dan tidak tanggung-tanggung langsung genjot dua putaran. Rasanya setelah ngegenjot odong-odong itu bener-bener capek dan kaos gw langsung basah karena keringat.
IMG_6463
IMG_6467
Berhubung perut langsung kelaparan setelah gowes odong-odong, gue memutuskan untuk mencari tempat makan yang yahud. Menurut beberapa rekomendasi ada satu gudeg di Jogja yang terkenal karena rasanya yang khas dan tempatnya yang ‘sembarangan’, namanya Gudeg Pawon.
Pawon dalam bahasa Jawa berarti dapur, dan memang itulah pemandangan yang pertama kali terlihat begitu masuk kedalam rumah makan ini. Begitu sampai di rumah makan yang baru buka pukul 10 malam ini, gue melihat pemandangan yang sulit dipercaya. Jam 10 lewat 5 orang-orang udah pada ngantri buat makan gudeg disini. Ga ada kesan interior yang fancy ataupun menu makanan yang photogenic disini, tapi orang-orang yang dateng kesini (menurut gue) adalah masyarakat menengah keatas, mungkin karena udah punya nama.
Photo 03-05-15 22.04.36
Photo 03-05-15 22.04.40
Setelah gue icip gudegnya, hmm… bener-bener enak. Nasinya terasa gurih dan lauknyapun (ayam, krecek, nangka, telor, dan tempe) sangat enak. Tak heran begitu banyak orang yang rela ngantri malam-malam demi menikmati sepiring gudeg hangat ini. Btw, karena situasi kurang cahaya saya tidak sempat memfoto gudegnya, sebenarnya tampilannya sama saja seperti gudeg basah lainnya.

Liburan ke Bandung

Travel

Bandung memang ga pernah kalah soal tempat merilekskan pikiran dan badan. Dengan adanya bermacam-macam wisata kuliner, udara yang sejuk, ditambah orang-orangnya yang ramah bikin bandung jadi salah satu tempat tujuan wisata favorit wisatawan lokal, termasuk gue. Selama tiga hari kemarin gue bareng keluarga gue menghabiskan waktu buat menelusuri beberapa tempat seru di kota kembang tersebut.

Hari Pertama

Gue nginep di hotel Padma. Hotel ini ada di daerah Ciumbuleuit; dari UNPAR keatas terus sampe ketemu bunderan, belok kanan, ikutin jalan bakalan nemu hotel Padma. Hotel ini keren banget. Dari restorannya kita bisa lihat pemandangan hutan yang berada tepat dibelakang hotel ini plus pegunungan yang berada disekitarnya. Nginep di hotel ini serasa kita lagi di tengah-tengah hutan.

Malemnya, gue pergi ke The Valley. The Valley ini salah satu café yang cukup terkenal di kota Bandung. Terletak di daerah Dago Atas yang buat mencapainya kita mesti naik sampai keatas bukit. Tempat ini cocok buat yang pengen berduaan sama pasangan, tapi cocok juga buat ngumpul bareng smaa sohib-sohib atau keluarga. Suasananya dingin, romantis, cozy dan rapi. Makanannya mahal. Yang recommended disini adalah bajigur dan zuppa soup. Gue udah dua kali kesini, dan kedua-duanya malem hari. Kalo malem hari kita bisa lihat pemandangn lampu-lampu kota bandung dari sini yang keren banget.

Hari Kedua

Di hari kedua, ada dua tempat yang gue kunjungi: pertama De Ranch dan yang kedua Floating Market Lembang (FML). Walaupun inti dari kedua tempat ini sama; yakni café, namun mereka memiliki ciri masing-masing yang khas. De Ranch menawarkan konsep peternakan kuda dan cowboy ala Texas sedangkan Floating Market Lembang, sesuai namanya, menawarkan konsep makan dengan jajanannnya yang ditawarkan diatas perahu.

Dari luar, De Ranch udah bisa ngasihtau kita kaya apa tempat yang satu ini. Dengan dekorasi khas rumah cowboy kaya dinding kayu, pintu khas rumah cowboy. Cukup bayar Rp. 5000 kita udah bisa masuk ke tempat ini. oh iya, potongan tiket masuknya juga btermasuk free drink didalam berupa susu sapi atau yoghurt. Didalam kita bisa lihat kuda, maksud gue, banyak kuda! Selain kuda ada lagi sapi dan macem-macem permainan buat anak-anak. Kalo mau naik delman disini kena tariff Rp. 25.000 per delman dan maksimal penumpangnya tiga orang (ga termasuk kusir). Kalau naik kuda tarifnya Rp. 20.000. Gue nyoba naik kuda, sumpah men rasanya bahagia bamget gue bisa naik kuda. Sebenernya sih ini bukan kali pertamanya gue naik kuda, gue pernah naik kuda di puncak dulu waktu masih kecil. Tapi yang namanya masih kecil ya gue udah lupa lah, lagian di umur segitu jug ague masih belum nyadar kalau kuda tuh biantang yang keren banget. Makanya pas gue naik kuda di De Ranch ini rasanya gue bahagia banget. Berasa kaya cowboy, kaisar, atau tentara jaman dulu yang masih pake kuda. Cuma agak serem juga bro naik kuda. Seremnya kalau kuda gue tiba-tiba pengen kawin atau berantem gara-gara liat kuda lain. Masalahnya, pas gue naik kuda itu kuda gue beberapa kali nyamperin kuda lainnya entah mau kawin, berantem atau ngegosip. Pengen sih bisa naik kuda yang lari-larian kejar-kejaran sama buronan pake pistol revolver haha film banget dh.

Tadinya gue Cuma mau ngunjungin De Ranch doing, tapi gue baru tau kalau ternyata lokasi De Ranch dan Floating Market Lembang ini berdekatan akhirnya setelah gue ke De Ranch langsung lanjut ke Floating Market Lembang. FML ini sebenernya Cuma food court dengan banyak spot foto yang menarik dan danau buatan yang gede. Tiket masuk kesini sebesar Rp. 10.000 dan udah termasuk free drink. Ada banyak makanan yang dijajakan disini mulai dari takoyaki, mi kocok, sampe nasi timbel. Sistem jajan disini yaitu pake sistem token. Kita tukerin uang kita dengan token yang bisa dipake buat jajan disini. Tokennya mulai dari yang paling kecil 5000 sampe yang paling gede 100.000. harga makanan disini memang mahal-mahal. Tahu bulet isi 10 aja 15.000.

Hari Ketiga

Di hari terakhir liburan gue ke Bandung ini, gue pergi ke café yang lagi in di Bandung: Lawang Wangi. Café ini searah sama The Valley, Cuma kalau Lawang Wangi ini adanya sebelum The Valley. Tempatnya sangat keren menurut gue. Dari gerbangngnya aja kita udah bisa ngelihat kekreatifan orang yang bikin Lawang Wangi ini. masuk ke halaman parkir kita bisa ngeliat beberapa patung yang keren dan nyeni banget. Masuk kedalam juga ada banyak lukisan-lukisan yang di pajang. Pas gue kesini, lukisan yang dipajang hasil karya pelukis asal jerman (gue lupa namanya) dia bikin lukisan dengan goresan yang berupa aksara Jawa. Dan lukisan-lukisan yang dia pamerin nyeritain tentang kehidupan Yesus mulai dari dia lahir sampai meninggal.

Setelah puas ngeliatin lukisan dan berbagai macam karya seni lainnya, gue lanjut ke lantai dua buat makan siang. Menu yang gue pesen adalah ayam penyet. Ayamnya gede, enak, dan pedesnya mantep, salah satu menu recommended disini. Di lantai dua ini kita bisa keluar ke teras dan ngeliat pemandangan lembang dari bukit. Pemandangannya bener-bener pecah banget! Sayang gue ga kesini waktu malem, mungkin kalau malem lebih pecah berantakan berdarah-darah kali kerennya.

Setelah itu, seperti ritual setiap wisatawan, gue belanja oleh-oleh. Beli beberapa brownies dan kue-kue kering di Kartika Sari Dago. Abis itu gue pulang ke Nangor dan bokap nyokap, kakak, kakak ipar, dan keponakan gue pulang ke Jakarta. Mungkin lain kali bakalan gue jelajahi lagi beberapa tempat enak di Bandung. Hatur nuhun sadayana.