Macbeth McQueen Review

Review, Shoes Review

Yesterday, I bought a pair of new shoes. Since I usually had a difficulty in situations where I have to frequently put off my shoes, I need have a pair of slip on. But when I see that popular slip on among society are the Toms and Wakai, I questioned myself, “do I really wanna look like a gay?” and my answer is “no.” I need a pair of slip on shoes that have a cool design, comfort for my feet, yet don’t make me look like a gay metrosexual dude. After spent hours of searching for that kind of slip on, my choice fall to Macbeth McQueen.

IMG_4221

Macbeth McQueen came in various color and material. They have black cement, dark grey, dark brown color, and various materials such as canvas, denim, and mesh. They don’t have many pattern for these shoes, only a variation in color and striping. Mine is the dark grey/burnt orange color. These shoes have a casual design look on the front yet sporty on the backside of it. I think it what makes them look sharper.

IMG_4230

IMG_4227

They are very light. I can walk, run, jump, tiptoeing with these shoes easily. They are also very comfort for my feet. The inner sole isnincredible. It has an embossed texture which makes a light feet massage.

IMG_4223

In conclusion, with their great comfort and design, Macbeth McQueen is a great choice for your casual look needs. If you’re tired of slip on that make you look less masculine, these shoes worth your feet.

Advertisements

Gugun Power Trio: Soul Shaker

Album Review, Review

If you’re now in searching for a good blues album, then I have a good news for you. The rising Indonesian blues band, Gugun Power Trio (GPT), just released their newest album titled Soul Shaker.

Soul Shaker contains 11 tracks. “Born to be Awesome,” which placed as the opener for this album, can surely make your spirit pumped up and equipped to seize some awesomeness.

The tracks keep on up-tempo until it slows down on the fifth track “Good Old Days.” The relaxing slow rock blues with nice, sweet, ear-catching guitar riffs can cool down your hectic day at the office. Anyway, this is my favorite track in the album. The first album’s single “Love Your Life” is also good. It’s very groovy and easy listening.

Gugun Power Trio

Perhaps, the most memorable song is “Wounded Heart.” Gugun successfully crafted a blue atmosphere through his play since the first tone of this aching, and heart-breaking song.

After all, Soul Shaker is one of the best Indonesian blues albums. With many ear-catching and groovy rhythms, I give four out of five stars for this album.

Image from here.

Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu

Book Review

IMG_3541

Satu lagi cerita tentang salah seorang putra Indonesia yang berhasil kuliah sampai ke negeri orang.

Kalau pernah baca buku semacam Notes from Qatar atau 9 Summers 10 Autumns, buku ini ga jauh beda dengan buku-buku tersebut. Hanya, menurut saya, di buku ini mas Irfan juga memberikan semangat kerukunan di setiap ceritanya, jadi ini memberikan satu tema spesial, ga melulu soal motivasi.

Salah satu hal unik yang langsung terlihat di buku ini adalah covernya yang two in one. Inlah hal yang membuat saya penasaran sama buku ini. Aneh amat ni buku covernya terbalik begini. Dan rasa penasaran itu akhirnya membuat saya membawa buku ini ke kasir. Setelah membuka sampul plastiknya, ternyata bukan covernya saja yang two ini one, bukunya juga! Ya, jadi satu buku ini terdapat dua cerita. Kalau berdasarkan covernya satu buku berjudul Beasiswa di bawah Telapak Kaki Ibu yang bercerita tentang kehidupan mas Irfan selama berkuliah di Amerika lalu buku lainnya berjudul Pungutlah Hikmah Walau dari Mulut Paman Sam yang berisi motivasi untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri serta tips-tips dari mas Irfan serta beberapa temannya yang sudah berhasil kuliah diluar negeri juga.

IMG_3543

Di buku Beasiswa di bawah Telapak Kaki Ibu, mas Irfan bercerita tentang kehidupan yang ia lalui selama pendidikan S2-nya di Brandis University, Massachussets, Amerika Serikat. Ceritanya sendiri bermacam-macam, mulai dari yang mengocok perut, sampai yang menyentuh perasaan. Yang kocak yaitu cerita mengenai ketika mas Irfan harus pergi dari Massachussets sampai ke Cambridge demi mendapatkan… sebotol kecap.  Lalu ada lagi cerita bagaimana mas Irfan bekerja sebagai chef sushi, kuli bangunan, dan menjadi kelompok dakwah di Amerika, yang semuanya sangat berkesan dan saying untuk dilewatkan begitu saja.

Lewat buku ini pikiran saya sedikit terbuka mengenai masyarakat Amerika serta umat Yahudi. Seperti salah satu pesan ayah Irfan “hati-hati Yahudi.” Selama ini saya sering terdoktrin bahwa Amerika adalah  “sarang setan”. Masyarakatnya sering bermaksiat, presidennya gila perang, islamophobia disana sangat keras pasca black September, dan berujung pada masyarakatnya yang sering mengintimidasi kaum muslim. Tapi setelah saya baca buku ini, hal yang saya prasangkakan tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Memang islamophobia disana masih terjadi, tetapi masyarakat yang menghargai perbedaan juga banyak, selain itu yang akhirnya mempelajari dan memeluk islam jauh lebih banyak, memang presiden amerika gila perang, tapi masyarakatnya selalu menginginkan perdamaian dan tidak ingin satu sen dari uang pajak yang dibayarkannya dibelikan peluru oleh pemerintah.

Pengakuan polos nan jujur anak mas Irfan bersekolah disana menyadarkan saya bahwa sistem yang mengatur masyarakat di Indonesia masih kalah jauh dibandingkan Amerika. Kondisi jalan yang baik, teman-teman sekolahnya yang sangat bertoleransi, guru-guru yang sigap dan mengajar dengan dedikasi tinggi membuat anak mas Irfan betah di Amerika dan akhirnya ogah-ogahan ketika harus kembali ke Bandung lagi.

Yang membuat saya terkesan dengan buku ini adalah cerita pengalaman hidup Irfan selama menjadi mahasiswa di Amerika. Dia banyak berinteraksi dengan komunitas muslim Amerika serta warga asli Amerika yang kebanyakan non-muslim. Saya suka dengan semangat mas Irfan Irfan untuk menunjukkan semangat kerukunan dalam setiap interaksinya dengan warga Amerika. Mempresentasikan the smiling muslim.

IMG_3542

Nah, kalau di buku Pungutlah Hikmah Walaupun dari Mulut Paman Sam berisi catatan-catatan motivasi yang bikin kita makin kebakar buat pengen ngelanjutin kuliah ke luar negeri. Juga berisi tulisan-tulisan dari teman-teman mas Irfan yang sudah berhasil kuliah di luar negeri.

Akhir kata, narasi yang dibawakan Irfan dalam buku ini, cerita-cerita Irfan selama di Amerika yang memotivasi, serta berbagai cerita tentang kehidupan masyarakat Amerika dilihat dari kacamata seorang pelajar Indonesia membuat buku ini terasa menyegarkan untuk dibaca. Sebagai pentup, saya ingin mengutip sebuah kutipan dari buku ini.

“Jika Allah sudah di hati, dunia itu akan ada di belakang kita, mengejar kita.”

(Hal. 125)