Tes Carep TEMPO (Bagian 2)

Articles

Tulisan ini merupakan lanjutan dari sini. Gue dengan senang hati membuat bagian dua ini karena ada permintaan khusus dari seorang blogger. Berhubung kejadiannya sudah cukup lama dan ending-nya tidak bagus maka gue akan menulisnya dengan singkat. Setelah dinyatakan lulus psikotes gue diundang untuk tes wawancara esok harinya di gedung Jakarta Design Center. Gue bareng temen seperjuangan gue, Jebe, kesana sesuai dengan waktu yang diminta oleh pihak TEMPO. Wawancara berjalan biasa saja. Pertanyaannya seputar kehidupan di kampus: seperti oraganisasi yang pernah diikuti, motivasi mengikuti program CAREP, dan pertanyaan-pertanyaan standar penerimaan kerja lainnya. Setelah pertanyaan dari interviewer selesai, dia nanya sama gue apa ada yang ingin gue tanyakan ke dia. Nah disini kadang jadi jebakan. Pada saat itu gue bilang engga, karena emang dari rumah gue cuma mempersiapkan jawaban bukan pertanyaan. Yang seharusnya gue lakukan adalah bertanya ke dia soal perusahaan. Ini menunjukkan kalau kita punya curiosity yang tinggi terhadap perusahaan dan ini bisa menjadi nilai lebih di mata interviewer. Setelah gue dan Jebe di interview, semua peserta dipersilahkan pulang dan menunggu hasil wawancara yang akan diberitahukan lewat e-mail. Tanpa disangka-sangka, gue dan Jebe lolos dan berhak untuk mengikuti focus group discussion di kantor Tempo Kebayoran. Kesan pertama ketika masuk ke kantor Tempo adalah kaget. Gue emang ga tau lokasi kantor Tempo sebelumnya, dan di bayangan gue bangunannya modern. Namun ternyata realitasnya sangat bertolak belakang. Kantornya sudah berumur dan lorong-lorongnya sangat sempit sampai-sampai pada waktu itu para peserta ada yang menunggu di luar gedung saking sesaknya bagian dalam kantor. Focus group discussion seharusnya adalah sebuah tes dimana kemampuan kita dalam berpendapat dan bernegosiasi diuji. Tapi, bukannya ditempatkan bersama peserta-peserta lain dalam satu meja, gue malah dihadapkan dengan tiga orang yang sepertinya petinggi Tempo dan diwawancara. Wawancara kali ini tentang latar belakang keluarga, dan resiko yang akan dihadapi apabila peserta lulus program CAREP Tempo ini. Gue jawab sejujurnya di bagian ini, dan pulang dengan keadaan pasrah. Di hari pengumuman kelulusan, gue tidak lebih beruntung dari Jebe. Dia lolos dan lanjut tes kesehatan, sedangkan gue gagal. Gue sedih saat itu karena kadang ketika temen lo bisa berhasil dari lo itu rasanya sakit. Tapi akhirnya gue ikhlas dan kembali menjadi jobseeker. Begitulah perjuangan gue di CAREP Tempo yang berakhir pada tahap focus group discussion. Walaupun gagal disini pada akhirnya gue kerja di media juga, dan lucunya lagi adalah satu tahun kemudian Jebe pindah ke kantor gue. Hidup kadang memang lucu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s