Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu

Book Review

IMG_3541

Satu lagi cerita tentang salah seorang putra Indonesia yang berhasil kuliah sampai ke negeri orang.

Kalau pernah baca buku semacam Notes from Qatar atau 9 Summers 10 Autumns, buku ini ga jauh beda dengan buku-buku tersebut. Hanya, menurut saya, di buku ini mas Irfan juga memberikan semangat kerukunan di setiap ceritanya, jadi ini memberikan satu tema spesial, ga melulu soal motivasi.

Salah satu hal unik yang langsung terlihat di buku ini adalah covernya yang two in one. Inlah hal yang membuat saya penasaran sama buku ini. Aneh amat ni buku covernya terbalik begini. Dan rasa penasaran itu akhirnya membuat saya membawa buku ini ke kasir. Setelah membuka sampul plastiknya, ternyata bukan covernya saja yang two ini one, bukunya juga! Ya, jadi satu buku ini terdapat dua cerita. Kalau berdasarkan covernya satu buku berjudul Beasiswa di bawah Telapak Kaki Ibu yang bercerita tentang kehidupan mas Irfan selama berkuliah di Amerika lalu buku lainnya berjudul Pungutlah Hikmah Walau dari Mulut Paman Sam yang berisi motivasi untuk mendapatkan beasiswa di luar negeri serta tips-tips dari mas Irfan serta beberapa temannya yang sudah berhasil kuliah diluar negeri juga.

IMG_3543

Di buku Beasiswa di bawah Telapak Kaki Ibu, mas Irfan bercerita tentang kehidupan yang ia lalui selama pendidikan S2-nya di Brandis University, Massachussets, Amerika Serikat. Ceritanya sendiri bermacam-macam, mulai dari yang mengocok perut, sampai yang menyentuh perasaan. Yang kocak yaitu cerita mengenai ketika mas Irfan harus pergi dari Massachussets sampai ke Cambridge demi mendapatkan… sebotol kecap.  Lalu ada lagi cerita bagaimana mas Irfan bekerja sebagai chef sushi, kuli bangunan, dan menjadi kelompok dakwah di Amerika, yang semuanya sangat berkesan dan saying untuk dilewatkan begitu saja.

Lewat buku ini pikiran saya sedikit terbuka mengenai masyarakat Amerika serta umat Yahudi. Seperti salah satu pesan ayah Irfan “hati-hati Yahudi.” Selama ini saya sering terdoktrin bahwa Amerika adalah  “sarang setan”. Masyarakatnya sering bermaksiat, presidennya gila perang, islamophobia disana sangat keras pasca black September, dan berujung pada masyarakatnya yang sering mengintimidasi kaum muslim. Tapi setelah saya baca buku ini, hal yang saya prasangkakan tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Memang islamophobia disana masih terjadi, tetapi masyarakat yang menghargai perbedaan juga banyak, selain itu yang akhirnya mempelajari dan memeluk islam jauh lebih banyak, memang presiden amerika gila perang, tapi masyarakatnya selalu menginginkan perdamaian dan tidak ingin satu sen dari uang pajak yang dibayarkannya dibelikan peluru oleh pemerintah.

Pengakuan polos nan jujur anak mas Irfan bersekolah disana menyadarkan saya bahwa sistem yang mengatur masyarakat di Indonesia masih kalah jauh dibandingkan Amerika. Kondisi jalan yang baik, teman-teman sekolahnya yang sangat bertoleransi, guru-guru yang sigap dan mengajar dengan dedikasi tinggi membuat anak mas Irfan betah di Amerika dan akhirnya ogah-ogahan ketika harus kembali ke Bandung lagi.

Yang membuat saya terkesan dengan buku ini adalah cerita pengalaman hidup Irfan selama menjadi mahasiswa di Amerika. Dia banyak berinteraksi dengan komunitas muslim Amerika serta warga asli Amerika yang kebanyakan non-muslim. Saya suka dengan semangat mas Irfan Irfan untuk menunjukkan semangat kerukunan dalam setiap interaksinya dengan warga Amerika. Mempresentasikan the smiling muslim.

IMG_3542

Nah, kalau di buku Pungutlah Hikmah Walaupun dari Mulut Paman Sam berisi catatan-catatan motivasi yang bikin kita makin kebakar buat pengen ngelanjutin kuliah ke luar negeri. Juga berisi tulisan-tulisan dari teman-teman mas Irfan yang sudah berhasil kuliah di luar negeri.

Akhir kata, narasi yang dibawakan Irfan dalam buku ini, cerita-cerita Irfan selama di Amerika yang memotivasi, serta berbagai cerita tentang kehidupan masyarakat Amerika dilihat dari kacamata seorang pelajar Indonesia membuat buku ini terasa menyegarkan untuk dibaca. Sebagai pentup, saya ingin mengutip sebuah kutipan dari buku ini.

“Jika Allah sudah di hati, dunia itu akan ada di belakang kita, mengejar kita.”

(Hal. 125)

Advertisements

One thought on “Beasiswa di Bawah Telapak Kaki Ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s