Kisah Nabi Ibrahim as. (Bag. 1)

Short Stories

Saya selalu suka dengan kisah nabi Ibrahim as. dalam Al-Quran. Begini ceritanya, pada suatu masa, hiduplah seorang pemuda bernama Ibrahim yang tinggal di tengah-tengah masyarakat yang menyembah berhala (patung-patung). Semua orang disekitarnya menyembah berhala, mulai dari anak-anak sampai kakek nenek, kecuali Ibrahim. Ibrahim tidak percaya sebuah benda yang dibuat manusia dari perak, emas, dll. itu bisa memberikan manfaat dan patut mendapat pemujaan.

Menganggap semua kerabatnya dan tetangganya memuja hal benda mati yang tidak pantas, Ibrahim memutuskan untuk pergi keluar dan mencari Tuhannya sendiri. Suatu malam, Ibrahim pergi melihat bintang. Ia terpesona oleh keindahannya dan berkata “inilah Tuhanku,” tetapi ketika bintang tersebut tenggelam ia berkata “Aku tidak suka kepada yang tenggelam.”

Kemudian ketika ia melihat bulan terbit. Lagi-lagi ia terpesona olehnya. Ia berkata “inilah Tuhanku,” tapi setelah bulan itu tenggelam ia berkata “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang tersesat.”

Lalu ia melihat matahari terbit. Ia berkata “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Namun ketika matahari itu terbenam, ia berkata “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas dari apa yang kamu persekutukan.”

Hingga pada akhirnya ia mendapatkan jawaban akan Tuhan yang selama ini ia cari, yang menciptakan bintang, bulan, dan matahari serta patut mendapatkan pemujaan dari seluruh umat manusia. Ia berkata “Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”

Sepulangnya, Ibrahim mencoba memberitahukan hal ini kepada kerabat, tetangga-tetangganya yang masih menyembah berhala, namun tidak ada yang mempercayainya. Mereka malah menganggap kalau Ibrahim sudah gila.

Suatu hari, ketika semua penduduk sedang keluar rumah untuk melakukan upacara pemujaan, Ibrahim memutuskan untuk menghancurkan seluruh berhala yang ada di rumah penduduk tersebut kecuali berhala yang berukuran paling besar. Kemudian ia mengalungkan kapak yang ia gunakan untuk menhancurkan berhala-berhala tersebut ke leher berhala yang paling besar, setelah itu Ibrahim kembali ke rumahnya.

Alangkah terkejutnya para penduduk ketika kembali melihat semua berhalanya telah hancur. Mereka marah, beberapa ada yang menangis, salah satu dari mereka berteriak “ini pasti ulah Ibrahim! Hanya dia yang tidak ikut pergi dengan kita, pasti dia yang melakukan ini semua!” Penduduk yang lainpun mengiyakan gusaran orang tersebut dan pada akhirnya para penduduk tersebut beramai-ramai pergi ke rumah Ibrahim. Dengan mata merah dan nafas yang memburu mereka menggedor keras pintu rumah Ibrahim.

“IBRAHIM!!”

BERSAMBUNG

Referensi: QS. Al-An’am: 74-76

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s