Talkshow “Sepenggal Kisah untuk Jiwamu”

Event

Kemarin saya datang ke acaranya anak Fikom. Semacam seminar dan talkshow memperingati Hari Buku Sedunia. Acaranya itu dibagi ke tiga sesi: pertama yaitu seminar tentang pentingnya membaca buku; kedua tentang perkembangan ebook di Indonesia saat ini; dan yang ketiga dan paling spesial adalah meet & greet dengan penulis ternama, dan salah satu penulis Indonesia favorit saya, Tere Liye!

Saya datang ke acara ini sengaja memang ingin bertemu Tere Liye, karena beliau ini memang selalu terkesan misterius di setiap karyanya. Dia tidak pernah memberikan identitas dirinya secara lengkap, hanya Tere Liye, ya, itu saja.

Setelah puisinya yang berjudul “Kalkulator Cinta” dibacakan dengan buruk oleh moderator akhirnya Tere Liye masuk panggung. Ternyata dia itu seorang laki-laki (dari membaca novel-novelnya saya pikir dia seorang perempuan). Tubuhnya pendek, kurus, berkulit putih; sepertinya keturunan chinese, matanya sipit tapi dari sorotnya saya tahu dia adalah orang yang cerdas. Penampilannya sangat sederhana. Sepatu keds, celana cargo panjang warna hijau muda, dan sweater warna hijau lumut. Awalnya saya pikir dia orangnya sangat serius, tapi setelah dia bercerita tentang ‘Tiga Dokter Berhati Cantik’ ternyata dia orang yang sangat ramah, cerdas, berpendirian teguh. Nah, berpendirian teguh inilah yang memusnahkan harapan saya untuk bisa berfoto dengannya. Dia awal dia berbicara dia ngasihtau kalo ga akan ada sesi foto-foto bareng dia, jangankan mau foto bareng, kita motoin dia lagi bicara didepan aja dia bilang ga boleh. Belakangan beliau menjelaskan kalau dia menganggap tidak ada urgensi bagi seorang penulis untuk mempublikasikan personalnya. Beliau lebih senang orang-orang mengenalnya lewat karya-karyanya, lewat tulisannya. “apresiasi paling tinggi bagi penulis adalah ketika saya duduk di pesawat bersebelahan dengan orang yang membaca buku “Hafalan Shalat Delisa” (salah satu novel Tere Liye) dan menangis. Itu perasaan yang sulit dijelaskan.” Begitu alasan beliau perihal kenapa dia ga mau nampilin profilnya.

Photo 2013-05-05 08.34.41 AM

Cuma dapet tanda tangannya aja

Di acara ini, beliau memberikan sedikit ceramah tentang kepenulisan. Tentang bagaimana pentingnya menulis bagi setiap individu manusia, bagaimana memulai menulis, dan lain sebagainya. Tadinya saya pikir kalau beliau adalah pure penulis, maksudnya orang yang benar-benar hidup dari kegiatan menulis, ternyata tidak. Pekerjaan utama beliau adalah akuntan, dan beliau menulis sekitar bada subuh atau maghrib. Ada bagian yang bikin saya kesal disini. Tere Liye adalah penulis yang menurut saya sangat produktif. Dalam setahun dia bisa merilis sampai 3 buku, tapi ketika ditanya bagaimana dia bisa menulis dia jawab “ah, saya tidak produktif. Jumlah kata yang kalian tweet tiap tahun itu lebih banyak dari jumlah kata dalam buku saya, jadi kalianlah yang lebih produktif.” Ngeselin, tapi ada benarnya juga.

Akhirnya seminar beliau ditutup dengan cerita tentang seorang anak korban broken home yang sembuh dari kalutnya lewat menulis di blog, dan setelah dia menulis di blog itu dia memiliki seorang pembaca yang bernasib sama dengannya namun lebih parah, dia pernah melakukan percobaan bunuh diri. Merasa memiliki teman yang senasib akhirnya dia mulai merasa positif dan mencoba bangkit kembali, tidak lagi marah dengan keadaan.

Overall, acaranya menurut gue kurang tertata apik. Terutama di MC dan moderator yang kurang bisa membawa suasana. Selain itu teknisnya pun seperti kurang dipersiapkan, masa Tere Liye harus menyerahkan mic sendiri ke penonton pada sesi tanya jawab. Yah, semoga kalau mengadakan acara lagi bisa lebih baik.

BONUS:

TIPS MENULIS DARI TERE LIYE

Di seminarnya kemarin, Tere Liye bagi-bagi tips menulis. Tips-tips ini sangat menarik dan berguna, jadi saya pikir lebih baik kalo disebarkan. Silakan disimak.

1. Keukeuh

Alias ngotot atau bahasa kerennya persistence. Tere Liye bercerita kalau awalnya dia menulis adalah mengirim artikel ekonomi di harian kompas. Pada kali pertama dia mengirim tulisannya, dia ditolak. Kali kedua, ditolak lagi. Yang ketiga kalinya, lagi-lagi ditolak, dan begitu terus sampai belasan kali sampai pada akhirnya entah si redaksinya “kasihan” karena mikir ni anak keukeuh banget ya ngasih tulisan, yaudah deh dimasukin aja. Dang! Akhirnya tulisan Tere Liye masuk harian Kompas.

Sama seperti ketika beliau ingin mencoba menerbitkan hafalan shalat delisa. Awalnya beliau mengirim naskah tersebut ke penerbit mizan, namun ditolak, alasannya adalah karena mizan sudah menerbitkan tiga buku tentang tsunami aceh dan sekarang tidak lagi berminat menerbitkan buku dengan tema yang sama, yasudah, “tidak perlu sedih” kata bang Tere. Dia coba lagi mengirim naskahnya ke penerbit Gramedia, ditolak lagi, alasannya karena Gramedia tidak menerbitkan buku-buku religius islam. Beliau coba lagi kirim ke penerbit lain sampai ada penerbit yang mau menerbitkannya, yaitu republika. Bagaimana kalau seandainya bang Tere tidak keukeuh ngirim tulisan ke kompas sampai belasan kali? Atau dia menyerah ketika naskahnya ditolak mizan? Be persistent!

2. Tugas penulis adalah hanya menulis

Ya, hanya itu. kalau ingin jadi penulis tidak usah memikirkan apakah karya kita akan disukai atau tidak, laku atau tenggelam di pasar, dicemooh atau dipuji. Tulis saja apa yang ada di kepala kamu, apresiasi adalah bonus. Tulislah di blog tanpa harapan akan adanya comment, atau pageview. Tulislah di facebook tanpa ada harapan sebuah ‘like’ dan comment. Tulislah di twitter tanpa ada harapan akan diretweet atau difavorite. Tulis saja, hanya itu.

3. Jadikan menulis sebagai hobi yang menyenangkan

Masih berhubungan dengan poin nomor 2. Menulis harus didasari dengan perasaan senang dan ikhlas. Kalau menulis dalam keadaan terpaksa, tentu hasil tulisan kita akan ala kadarnya, tidak dari hati kita yang ikhlas memang ingin menulis. Jadi, pastiin kita menulis karena kita menyenanginya.

4. Cintai dunia tulis menulis dengan menulis setiap hari

Pernah dengan petuah “cinta datang karena terbiasa”? nah, begitu pula dengan menulis. Kita akan mencintai dunia tulis menulis dengan terbiasa melakukannya. Menulislah setiap hari. Apa saja. Diary, cerpen, puisi. Dan berusahalah untuk berkembang setiap harinya. Dari yang Cuma dua paragraf, besok-besok berkembang jadi menulis 5 paragrag. Teruslah seperti itu. sampai akhirnya kita bisa menulis ratusan paragraf, bukan tidak mungkin tulisan kita bisa menjadi sebuah novel. Ingat hadits ini: “Allah menyenangi perbuatan biarpun kecil tapi ia lakukan dengan terus menerus.”

5. Banyak Membaca

Menulis sejatinya adalah menuangkan apa yang ada di pikiran kita lewat media tulisan. Lantas kalau di pikiran kita tidak ada bahan untuk dituliskan apa yang mau ditulis? Bacalah banyak-banyak buku. Awalnya mungkin kita hanya ingin membaca buku-buku yang sesuai dengang tulisan yang akan kita tulis, misal kita ingin menulis cerita detektif dan kriminal kita banyak-banyak baca cerita sherlock holmes, atau arsene lupin. Tapi lama-kelamaan kita juga akan sadar bahwa penting untuk membaca semua jenis tulisan, karena akan menambah pengetahuan kita selain itu juga akan memberikan kita pandangan lain tentang suatu hal.

6. Alokasikan Waktu Dengan Baik

Tere Liye bercerita bahwa menurut survey, manusia modern menulis 1000 kata perhari. Itu adalah kata yang ditulis entah dalam email, tweet, update status, pekerjaan, tugas kuliah, dll. Bayangkan, 1000 kata per hari! Sekarang kalau seandainya seribu kata itu berupa tulisan yang “tertata” dalam seminggu kita sudah bisa membuat satu cerpen.  Itulah pentingnya mengalokasikan waktu yang kita punya. Manfaatkan setiap waktu yang kita punya untuk hal-hal yang benar-benar penting, untuk menulis buku, artikel atau apapun yang menjadi impian kita.

Begitulah tips-tips menulis dari Tere Liye. Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat darinya dan menjadi penulis hebat sekelas beliau. Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s