Selamat Jalan, Pak Rudi Wilson

Articles

“Use your brain, if you have any.” – Rudi Wilson

Selasa itu, saya membuka twitter seperti biasanya. Untuk sekedar mencari tahu berita yang sedang terjadi, mencari petuah atau sekedar ngepoin beberapa orang yang saya anggap penting. Sambil scroll layar hp saya, ada sebuah kicauan di TL dari teman saya, ia menulis: “RIP Pak Rudi Wilson.” “Innalillahi” saya sangat kaget. Saya yang masih belum bisa percaya berita itu menanyakan kembali ke dia, apa dia yakin berita tersebut benar dan dari mana sumber berita itu, agar saya yakin bahwa berita yang saya dengar ini adalah bohong. Lalu kembali ada teman saya yang berkicau dengan kicauan yang sama, dan kembali, saya menanyakan pertanyaan yang sama. Hati saya mulai was-was, jangan-jangan berita ini memang benar. Bagaikan air banjir yang masuk melalui sela-sela pintu, dari dua orang yang berkicau jadi semakin banyak lagi teman-teman saya yang berkicau tentang hal demikian. Berarti ini berita benar. Pak Rudi Wilson, meninggal.

Beliau adalah salah satu dosen yang, menurut saya, berpengaruh di kampus. Dia hobi banget nyela mahasiswanya, tapi celaannya itu justru bermaksud untuk membangun, bukan menghina. Dan entah magis apa yang dia punya, segala celaan yang dia lempar ke salah seorang mahasiswanya justru malah terdengar lucu bagi mahasiswa yang lain. Dia ga segan-segan untuk bilang ke mahasiswanya “kamu teh dungu” (kamu itu bodoh). Akan tetapi, beliau adalah orang yang berdedikasi mengajar mahasiswanya. Saya pernah diajar selama satu semester bersama dia, di kelas Creative Writing. Setiap minggu didalam kuliah itu kami disuruh untuk membuat tulisan sesuai tema kuliah pada pertemuan itu, dan pada pertemuan berikutnya tulisan tersebut dikembalikan lagi kepada kami untuk melihat hasil koreksian belioau. Kertas yang saya terima ternyata berhasil, berhasil dapet banyak tinta merah, alias banyak salahnya. Setelah itu beliau menyuruh mahasiswanya untuk bertanya tentang bagian tugas kami yang beliau beri tinta merah. Dalam menanggapi pertanyaan-pertanyaan mahasiswanya, beliau selalu menjelaskan dengan jelas, detil, sabar, dan tentu saja, sambil mencela mahasiswanya. Tapi jujur, saya senang diajar oleh beliau. Itu merupakan ilmu dan kesan yang berbekas di memori saya.

Terima kasih atas segala ilmu, canda, waktu, dan dedikasi yang sudah bapak berikan kepada kami. Akan kami kenang terus bapak dan kami gunakan ilmu yang telah bapak beri. Terima kasih dan selamat jalan, patriot.

 

“Engkau patriot, pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s