Kuliah Yang Rajin Ya, Ndri

Short Stories

Dengan mata yang masih setengah tertutup Andri melihat kearah jam di samping tempat tidurnya yang menunjukkan pukul 10. Ia langsung panik menyadari dirinya yang sudah telat masuk kuliah, tapi dia tidak mau bolos kali ini, tidak peduli telat atau tidak yang penting bagi dia datang ke kelas. Andri lompat dari tempat tidurnya dan langsung melesat ke kamar mandi, hanya sikat gigi dan cuci muka sekenanya untuk menghemat waktu, ganti baju dengan setelan kuliahnya: setelan kaos dan celana jeans favorit, lalu menyemprotkan parfum ke hampir semua jengkal tubuh berharap itu cukup ampuh untuk menutupi bukti ke-tidak-mandi-an-nya hari ini. Setelah itupun ia berlari ke parkiran motor dan meluncur ke kampusnya.

Di tengah perjalanan Andri baru sadar kalau ia lupa memakai helm karena saking terburu-burunya tadi. Ah, tak apalah, semoga saja hari ini polisi memiliki pekerjaan yang lebih penting dari menilang, pikir Andri. Ia melirik jam tangannya yang menunjukkan ia sudah telat hampir 20 menit. Ia pun semakin melajukan motornya. Ia tidak boleh bolos kali ini, ia harus masuk kuliah, sudah cukup ia bolos kuliah selama ini tidak boleh diulanginya lagi. Tapi di pertigaan menuju kampusnya Andri melihat kemacetan. Jelas dia bingung karena tidak biasanya jam segini macet. Dengan Mio kesayangannya ia mencoba menembus kemacetan lewat sela-sela mobil. “Kenapa macet gini sih? Kaga ada lampu merah kan, kecelakaan kali ya atau jangan-jangan… .” Setelah motor Andri sudah mencapai kedepan sedikit dan berhasil melihat keadaan didepan barulah ia mengetahui kalau sedang ada razia motor di pertigaan tersebut. “Bener kan! Haduh gimana lah ini.”Andri panik tapi ia tahu tidak ada jalan lain menuju kampusnya selain dari pertigaan itu, dan ia tidak boleh bolos kuliah kali ini. Jadi, dengan harap-harap cemas ia berusaha mengendarai motornya di sebelah kiri mobil yang sedang melaju. Lancar, polisi yang melakukan razia di sebelah kanan jalan tidak bisa melihat dia, tapi celaka, ternyata di trotoar sebelah kiri ada polisi juga, dan ia melihat Andri yang tidak memakai helm. “Mampus gue!.”

Andri langsung menarik gasnya, berusaha melarikan diri dari polisi yang melihatnya tersebut. Tapi sayang, polisi tersebut langsung mengejarnya dengan motor, sekarang terjadi adegan kejar-kejaran motor antara polisi dan mahasiswa, persis seperti di film-film. Andri mengendarai motornya dengan cepat, melewati angkot-angkot dan kendaraan lain yang sedang melaju di jalanan Jatinangor itu. Ia panik. Tidak bisa berpikir kemana ia harus mengendarai motornya, yang penting ia harus menjauh dari kejaran polisi, malah kalau bisa menghilang dari pandangan polisi itu. Saat sedang melaju cepat Andri tidak melihat ada sekawanan pelajar SD sedang menyeberangi jalan. Andri kaget dan ia menginjak pedal rem dalam-dalam tapi karena jalanan disitu berpasir motornya terpeleset jatuh dan Andri terlempar ke trotoar.

Kecelakaan tersebut menarik perhatian orang banyak. Sekejap sudah banyak orang berkumpul disitu. Beberapa orang membantu Andri berdiri. Akhirnya polisi yang menejar Andri itu datang dan menghampiri Andri. “Kamu tidak apa-apa?” tanya polisi itu. “Ga apa-apa pak,” jawab Andri, padahal jelas terlihat kedua lengannya penuh debu dan ada sedikit terluka. Beruntung kepalanya yang tidak ditutupi helm baik-baik saja. “Kenapa kamu tidak memakai helm tadi? Saya memang ingin menilang kamu tapi tidak seharusnya kamu kabur.”
“Saya buru-buru pak jadi tidak sempat memakai helm.”
“Hmm.. coba sini lihat surat-surat kamu, SIM dan STNK.” Andri meraba-raba kantong celananya, tapi ia tidak menemukan dompetnya, ia mencari ditasnya pun juga tidak ada. Barulah ia menyadari dompetnya ketinggalan di laci meja kamar kosnya.
“Do-dompet saya ketinggalan pak, SIM dan STNK saya ada disitu. Kita damai aja ya pak, maafin saya, saya mau kuliah ini pak, sudah telat.” Andri berusaha memelas berharap polisi tersbut merasa iba dan membiarkannya pergi kuliah.
“Itu salah kamu! Kalau begitu saya berikan kamu surat tilang karena tidak memakai helm dan suratmu tidak lengkap, motor ini juga akan saya tahan di kantor polisi!”
“Pak, pak, jangan begitu, pak, ini mau saya pakai buat kuliah, kalau tidak ada ini saya bisa telat, kita damai aja ya pak.”
“Kamu kan bisa naik angkot! Dan saya bukan polisi yang bisa kamu bayar, ngerti kamu!” Andri hanya bisa pasrah oleh omongan polisi itu. Akhirnya ia menyerahkan kunci motornya dan polisi itu memberikan surat tilang.
“Saya tahan motor kamu di kantor polisi, silakan kamu datang ke kantor sambil membawa SIM dan STNK kamu kalau ingin mengambilnya.”
Akhirnya polisi itu pergi dan Andri menunggu angkot untuk melanjutkan perjalanannya ke kampus.

***

Sudah hampir jam 11. Andri sudah sangat telat. Ia turun di gerbang kampusnya, dan membayar dengan selembar seribuan yang terselip di salah satu kantong celananya. Ia bergegas menuju ruang kelasnya. Ketika sedang berlari-lari ia melihat Ochi yang sedang asyik berkumpul di teras kampus bersama teman-teman sekelasnya yang lain.
“Ndri, lo kenapa itu luka? Lo abis kecelakaan?”
“Iya, tadi gue jatoh pas dikejar polisi.”
“Hah! Kok bisa!?” Ochi terkejut mendengar jawaban Andri.
“Ceritanya panjang. Kok lo pada ga masuk kelas?”
“Baru aja selesai. Tadi Bu Ida ngajarnya emang cuma sebentar, soalnya dia mau ke rumah sakit nemenin anaknya yang dirawat.”
Batu kekesalan dan kesedihan seolah menghantam dadanya. Ia sudah bertekad ingin ikut kuliah, kenapa ia harus mengalami kecelakaan? Mengapa ia harus ditilang polisi? Kenapa ia tidak bisa bangun pagi? Semua pertanyaan tersebut muncul satu persatu di benak Andri tanpa bisa ia jawab.  Ia tidak ingin bolos kuliah lagi karena ia sudah berjanji ingin melaksanakan perintah ayahnya. Perintah terakhirnya.

Sebulan yang lalu saat ayah Andri terbaring lemah di ranjang rumah sakit karena penyakit jantungnya, ia berpesan kepada Andri. “Ndri..” katanya sambil berusaha keras mengucapkan kalimat, “..Jangan malas kuliah. Dunia tidak butuh orang yang malas. Rajin-rajinlah kuliah agar kamu sukses. Ayah hanya berpesan itu kepada kamu. Kamu harus rajin kuliah ya, Nak.” Keesokan harinya ayah Andri meninggal. Pesan terakhir ayah Andri terngiang terus di kepalanya sampai detik ini. Sejak saat itu ia berjanji ia akan rajin masuk kuliah seperti yang diwasiatkan ayahnya. Apapun dia lakukan untuk bisa sampai di kelas mengikuti kuliah, walaupun pada akhirnya didalam kelas itu ia kembali melanjutkan tidurnya.

 

 
Dimas Ahimsa, Jatinangor, 3 April 2012.

Advertisements

2 thoughts on “Kuliah Yang Rajin Ya, Ndri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s